PENDAHULUAN
Desa Terong di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, merupakan wilayah pesisir utara yang memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor wisata, pertanian, dan lingkungan hidup. Pemanfaatan lahan bekas tambang menjadi kawasan edukasi berbasis alam, serta dukungan ekonomi kreatif masyarakat melalui kolaborasi pemerintah dan Pokdarwis, menjadikan desa ini tumbuh sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang memadukan unsur lingkungan, budaya, dan produktivitas pertanian (Karo et al., 2020).
Meskipun demikian, sebelum adanya program pengelolaan sampah, desa ini masih menghadapi persoalan serius berupa penumpukan sampah rumah tangga akibat rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah serta belum tersedianya sistem pengelolaan yang terstruktur.
Permasalahan sampah menjadi tantangan utama bagi masyarakat Desa Terong, terutama karena meningkatnya aktivitas ekonomi dan pariwisata yang belum diikuti dengan fasilitas dan sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Sampah yang tidak ditangani dengan benar menimbulkan pencemaran lingkungan, mengurangi keindahan desa, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat berkembangnya berbagai sumber penyakit.
Rendahnya kesadaran sebagian warga mengenai pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah menyebabkan banyak sampah dibuang sembarangan atau dibakar, sehingga memberikan dampak negatif bagi lingkungan.
Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya bersama serta edukasi berkelanjutan agar masyarakat dapat menciptakan lingkungan Desa Terong yang lebih bersih, sehat, dan tertata.
Pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi turut memperbesar jumlah sampah yang dihasilkan sehingga memperparah kondisi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan dan masih kuatnya pola pikir “kumpul-angkut-buang” membuat sampah terus menumpuk di tempat pembuangan akhir, padahal sampah organik maupun anorganik memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan benar (Azzirki, 2022).
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan melalui UU No. 18 Tahun 2008 serta Pergub Kepulauan Bangka Belitung No. 48 Tahun 2019 yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Kebijakan ini membutuhkan kerja sama yang intensif antara pemerintah provinsi dan kabupaten agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan lebih efektif dan mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan (Jastam, 2015).
Selain itu, polusi udara akibat pembakaran sampah dapat menimbulkan gangguan kesehatan, sehingga diperlukan upaya penanganan sampah yang terkoordinasi dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan kaum muda sebagai agen perubahan.
Salah satu gerakan yang muncul untuk menjawab persoalan ini adalah Waste for Change, yang hadir sebagai respons terhadap meningkatnya produksi sampah di Indonesia dan dampak pencemaran yang ditimbulkannya.
Gerakan ini menawarkan pendekatan baru dengan melihat sampah sebagai sumber daya bernilai melalui pemilahan, daur ulang, dan kreativitas dalam pemanfaatannya.
Selain mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, Waste for Change juga memberdayakan masyarakat lokal, terutama anak muda, untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Upaya ini menunjukkan bahwa perubahan positif dalam isu lingkungan dapat diwujudkan melalui kolaborasi dan partisipasi bersama (Yuliani, 2018).
Isu sampah menjadi perhatian besar di tingkat nasional dan global karena jumlahnya terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk, pola konsumsi modern, dan kurangnya pengelolaan yang berkelanjutan.
Gerakan lingkungan menjadi sangat penting sebagai upaya bersama untuk mengurangi timbulan sampah dan membangun perilaku yang lebih ramah lingkungan.
Dalam hal ini, peran kaum muda sangat signifikan karena mereka memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menciptakan solusi pengelolaan sampah yang inovatif.
Generasi muda kini juga memiliki kesadaran lingkungan lebih baik berkat akses informasi digital, pendidikan tentang keberlanjutan, dan pengalaman langsung menghadapi dampak perubahan iklim.
Selain itu, mereka merupakan pengguna utama teknologi dan media sosial, sehingga mampu menyebarkan pesan-pesan lingkungan secara cepat serta mengembangkan inovasi digital dalam pengelolaan sampah (Musi, 2025).
Inovasi sosial merupakan proses pengembangan dan penerapan ide-ide baru yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai institusi yang menyampaikan pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai wadah untuk membentuk karakter, etika, dan kesadaran sosial mahasiswa.
Dalam kapasitasnya sebagai agen perubahan, mahasiswa bertanggung jawab secara moral untuk menyadari dampak tindakan mereka terhadap masyarakat dan lingkungan, serta secara intelektual mampu menganalisis, meneliti, dan merancang solusi inovatif.
Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui penelitian aplikatif, pengembangan teknologi ramah lingkungan, dan keterlibatan aktif dalam program sosial atau lingkungan, sehingga dampak positif yang dihasilkan bersifat berkelanjutan dan bermanfaat bagi komunitas serta lingkungan sekitar (Pandiangan et al., 2024).
Gerakan hijau yang digagas oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Desa Terong menjadi contoh nyata partisipasi anak muda dalam pelestarian lingkungan.
Kegiatan ini layak diangkat sebagai opini karena menunjukkan inisiatif mahasiswa dalam menangani permasalahan sosial dan lingkungan secara kreatif serta berdampak langsung bagi masyarakat setempat.
Salah satu aspek penting dari gerakan ini adalah konsep “sampah menjadi berkah,” yang mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomis dan lingkungan, sehingga menjadi solusi inovatif yang relevan dengan upaya pembangunan berkelanjutan.
PEMBAHASAN
Gerakan hijau yang digagas oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Desa Terong merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kesadaran lingkungan melalui pendekatan edukatif dan aplikatif.
Kegiatan ini menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sekaligus mendorong masyarakat setempat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.
Mahasiswa secara aktif menyosialisasikan praktik pengelolaan limbah yang benar, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik hingga pemahaman dampak lingkungan dari sampah yang tidak terkelola.
Desa Terong dipilih sebagai lokasi kegiatan karena tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dan potensi limbah yang masih dapat diolah menjadi sumber daya bernilai.
Setiap kegiatan dirancang untuk tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.
Berbagai kegiatan praktis dalam gerakan hijau ini mencakup pengelolaan bank sampah, pembuatan eco-brick, pengolahan kompos, serta kerajinan tangan dari bahan bekas.
Bank sampah di Desa Terong menjadi pusat kegiatan yang memungkinkan masyarakat menyetorkan sampah yang bisa didaur ulang, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.
Pembuatan eco-brick memanfaatkan plastik bekas menjadi bahan konstruksi alternatif, yang dapat digunakan untuk pembangunan fasilitas desa.
Proses pembuatan kompos dari sampah organik membantu meningkatkan kualitas tanah pertanian dan mengurangi limbah rumah tangga.
Kegiatan kerajinan berbasis sampah juga mendorong kreativitas warga desa dan membuka peluang usaha baru yang mendukung ekonomi lokal.
Mahasiswa sebagai penggerak utama gerakan hijau bekerja sama dengan warga desa, pihak sekolah, dan kelompok pemuda setempat untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan.
Pelibatan berbagai elemen komunitas ini memungkinkan transfer pengetahuan dan praktik pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Masyarakat Desa Terong terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari edukasi, pemilahan sampah, hingga produksi barang daur ulang.
Keterlibatan sekolah mendorong generasi muda untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Sementara kelompok pemuda desa berperan dalam memantau dan melanjutkan kegiatan setelah program resmi mahasiswa berakhir, sehingga keberlanjutan gerakan dapat terjaga.
Konsep “Sampah Jadi Berkah” menjadi inti dari gerakan ini, yang menekankan bahwa sampah dapat menjadi sumber daya bernilai ekonomis dan ekologis.
Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian lokal, sedangkan limbah plastik diubah menjadi produk yang bermanfaat, seperti kerajinan dan eco-brick.
Barang bekas seperti botol, kardus, dan kain perca juga diubah menjadi benda fungsional atau dekoratif yang memiliki nilai jual.
Penerapan konsep ini membantu masyarakat Desa Terong melihat sampah sebagai peluang, bukan sekadar masalah. Dengan demikian, program ini mengubah pola pikir masyarakat dan menumbuhkan budaya inovatif dalam pemanfaatan limbah.
Dampak ekonomi dari gerakan ini cukup nyata bagi masyarakat Desa Terong. Produk hasil pengelolaan sampah dapat dijual, memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
Selain itu, pengurangan biaya pengelolaan sampah menjadi lebih efisien karena sebagian limbah dimanfaatkan secara langsung.
Kreativitas warga dalam mengembangkan produk berbasis sampah membuka peluang usaha mikro baru yang dapat bertahan jangka panjang.
Program ini juga menumbuhkan semangat kewirausahaan berbasis lingkungan, yang dapat memperkuat perekonomian lokal secara berkelanjutan.
Selain dampak ekonomi, gerakan hijau ini memberikan pengaruh positif secara sosial dan lingkungan. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan meningkat, dan budaya gotong royong kembali diperkuat melalui partisipasi bersama dalam kegiatan lingkungan.
Desa Terong menjadi lebih bersih, tertata, dan nyaman untuk ditinggali. Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan kelompok pemuda mendorong terciptanya inovasi lokal yang relevan dengan kondisi desa.
Hal ini juga menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program, sehingga perilaku peduli lingkungan menjadi lebih melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan gerakan hijau tidak terlepas dari sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Fasilitas dan alat untuk mendukung proses daur ulang masih terbatas, sehingga kapasitas pengolahan sampah tidak maksimal.
Sebagian masyarakat Desa Terong memiliki pemahaman yang rendah mengenai pentingnya pengelolaan limbah, sehingga memerlukan pendampingan intensif.
Mahasiswa KKN hanya memiliki waktu terbatas untuk berinteraksi langsung, sehingga kesinambungan kegiatan menjadi tantangan utama. Upaya untuk menjaga gerakan tetap berjalan setelah program selesai membutuhkan perencanaan yang matang dan partisipasi aktif semua pihak.
Keberlanjutan gerakan hijau dan program “Sampah Jadi Berkah” sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah desa yang dapat menyediakan fasilitas dan kebijakan pendukung.
Pembentukan kelompok pengelola sampah di tingkat desa menjadi langkah strategis untuk menjaga konsistensi pengelolaan sampah. Kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat sinergi dan memastikan transfer pengetahuan serta inovasi tetap berlangsung.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, Desa Terong dapat menjadi contoh pengelolaan sampah kreatif dan inovatif yang memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara menyeluruh.

Gambar 1. Bank Sampah Program
Kerja di Desa Terong

Gambar 2. Sosialisasi Mahasiswa
Unmuh Babel di Desa Terong
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa gerakan hijau yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Desa Terong merupakan langkah strategis dalam menjawab persoalan pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Program yang mengusung konsep “Sampah Jadi Berkah” ini berhasil menanamkan pemahaman bahwa limbah tidak semata-mata menjadi permasalahan, tetapi juga dapat diolah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis dan ekologis.
Melalui berbagai kegiatan seperti bank sampah, pembuatan eco-brick, pengolahan kompos, serta kerajinan berbahan daur ulang, program ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga membangun budaya produktif dan inovatif di tengah masyarakat.
Keterlibatan aktif masyarakat, sekolah, kelompok pemuda, serta dukungan pemerintah desa menjadi elemen penting yang memperkuat upaya pelestarian lingkungan secara partisipatif dan berkelanjutan.
Selain memberikan manfaat ekologis, gerakan ini juga berdampak signifikan pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat Desa Terong. Program ini memunculkan peluang usaha mikro berbasis lingkungan, meningkatkan pendapatan warga, serta memperkuat kembali nilai gotong royong dan kepedulian sosial.
Walaupun kegiatan mahasiswa memiliki keterbatasan waktu dan tantangan berupa minimnya fasilitas serta rendahnya pemahaman sebagian warga mengenai pengelolaan limbah, gerakan ini tetap menunjukkan hasil positif yang mampu mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah.
Untuk memastikan keberlanjutan program, diperlukan dukungan kebijakan dan fasilitas dari pemerintah desa, serta kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi dan komunitas lokal. Dengan demikian, Desa Terong memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang kreatif, inovatif, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Azzikri, A. (2022). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Bank Sampah DLH Oleh Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Program Studi Pembangunan Ekonomi Dan Pemberdayaan Masyarakat
Jastam, M. S. (2015). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengelolaan Sampah (Studi Kasus di Bank Sampah Pelita Harapan, Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Makassar). Jurnal Hegiene, 1(1).
Karo, P., Harahap, Z., & Hamonangan, S. (2020). Erceptions and Expectations of Touristsquality of Tourist Home Dining Servicesin Terong Village, Belitung District. Jurnal Akademi Pariwisata Medan, 8(1). https://doi.org/10.36983/japm.
Musi, R. (2025). Etika Kaum Muda Indonesia Dalam Gerakan Waste For Change: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang Lingkungan Bersih. Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains (ECOTAS), 6(1).
Pandiangan, R., Hakim, N., & Marthalia, L. (2024). Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Inovasi Sosial untuk Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat. SENYUM Boyolali, 5(2)
Selomo, M., Birawida, A. B., Mallongi, A., & Muammar. (2016). Bank Sampah Sebagai Salah Satu Solusi Penanganan Sampah di Kota Makassar (The Waste Bank is One of Good Solution for Handling Waste in Makassar City). Jurnal MKMI, 12(4).
Yuliani, F. (2018). Pengelolaan Sampah dari Waste Change Terkait Permasalahan Sampah di DKI Jakarta. The Indonesian Journal of Public Administration (IJPA), 4(1).
Disusun oleh :
Erick Prayogo Walton
Andri
Sulaiman
Malika
Precelia Indar Mahrani
Kumala Sari
Mega Buana
Sely Lelita
Andella Syahmita
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
email: likamalika585@gmail.com












