(penulis: Muhammad Tamimi)
Kesulitan yang paling sulit itu adalah memulai, apalagi memulai menulis sulitnya bukan main, selalu ada alasan yang membuat seorang penulis malas memulai mengarang. Kondisi tersebut tak berlarut-larut dibiarkan sepanjang kita mau melawannya. Zona nyaman tak boleh berlama-lama dalam kehidupan seorang penulis agar mampu menghasilkan karya yang produktif. Banyak penulis terjebak dalam zona nyaman lantaran tak berani memulai menulis, ujung-ujungnya larut dan tenggelam, padahal semangat dan niat ingin menulis itu ada, karena tidak berani memulai tadi berakibat patal sampai dipenghujung usia pun tak mampu melahirkan satu tulisan, sedih dan menyakitkan bukan?.
Menulislah karena menulis itu banyak sekali manfaatnya, membuat awet muda, melatih berpikir sistematis, kaya pengalaman, memudahkan berbicara di depan umum, meningkatkan kualitas komunikasi, memperluas jaringan, membangun personal branding dan sejenisnya. Salah besar kalau tidak menulis, ketika sudah mengetahui manfaat dari kegiatan tersebut tentunya muncul rasa menyesal, kenapa? menulis tidak dimulai sejak kecil.
Dalam prakteknya, cukup fokus pada tiga hal, pertama ceritakan bagaimana sebuah peristiwa bisa terjadi, mengapa peristiwa itu terjadi dan bagaimana sikap kamu menghadapinya. Sangat simpel dan mudah dipraktekkan, hal ini merupakan modal dasar dalam menulis setiap hari tanpa kendala dan kesulitan lantaran referensinya adalah pengalaman itu sendiri.
Fokus saja pada satu tema yang ingin ditulis, tak perlu loncat sana sini, bila selesai satu tema lanjut tahap editing kosa kata, kalimat, paragraf dan alinea apakah sudah sesuai kaidah kepenulisan atau belum. Jika kurang, betulkan satu persatu agar sempurna. Sekarang pun lagi mengedit tulisan yang dibuat malam tadi agar menarik dan mencerahkan pembaca.
Berulang-ulang diedit supaya bahasanya mudah dipahami pembaca baik kaum menengah maupun masyarakat umum. Totalitas dengan satu tema lanjut ke tema lain supaya tulisan diperhatikan dan dihargai. Tulisan banyak percuma bila tidak diedit, apalagi tulisan telah sampai empat halaman, namun terkendala editing, ujung-ujungnya macet.
Tidak ada yang mengejar kecuali semangat dan keinginan agar buku pertama segera terbit. Selain itu, editlah tulisan ini sebaik-baiknya supaya enak dibaca dan dipahami pembaca. Tulisan dianggap realistis dibandingkan banyak menulis, namun tak disentuh dengan editing sebagai tahap akhir dari kegiatan tulis menulis. Disinilah kita belajar merangkai satu kata demi kata memperbaiki tulisan yang tercecer akibat tidak nyambung dan rapi.
Saya yakin dan percaya atas usaha dan perjuangan yang tak kenal menyerah dapat melahirkan karya artikel maupun buku. Menulislah apa yang ada dalam pikiranmu terlepas itu tulisan sederhana atau luar biasa, semuanya bisa diungkapkan melalui kata-kata. Menulis merupakan tempat kamu berkeluh kesah, tempat mengadu bagaimana tentang hidup, pengalaman sehari-hari, aktivitas harian, cerita dalam buku, peristiwa atau kejadian, semuanya diungkapkan dalam bentuk tulisan.
Menulis itu sangat menyenangkan bila dilakukan dengan hati.
Setiap hari tentu mengalami pengalaman yang berbeda-beda, keragaman itu mengajarkan kita tentang banyak hal, akan tetapi sepanjang tidak disampaikan melalui kata-kata, maka tidak memberikan manfaat berarti bagi diri sendiri maupun orang lain. Sangat disayangkan manakala hal itu diabaikan tanpa ada bekas untuk diingat. Bagi saya, menulis itu tidak ada aturan baku, boleh menulis dari depan, tengah, belakang atau bagian judulnya dulu. Setiap tulisan yang dihasilkan dapat diselesaikan dengan baik dan diedit menjadi sempurna, minimal dibaca berulang-ulang.
Sebuah tulisan dikatakan baik jika isinya mampu umencerahkan pembaca. Mulai aja dulu, urusan sempurna atau tidak belakangan, jika telah memulai langkah selanjutnya akan lebih mudah dan gampang. Jangan pernah menahan sesuatu yang mengganggu pikiran, saat ini sikap memaksa menulis merupakan salah satu strategi melahirkan karya ditengah situasi sibuk minta ampun, artikel dan buku wajib dirintis sampai jadi.
Apapun yang diingat atau dialami tulis saja, lambat laun tulisan itu akan bertambah dan mahir. Bila sudah lengkap dan tembus empat halaman lanjut kegiatan editing, meskipun tulisannya tidak nyambung, namun setidaknya kita bisa mengkaitkan satu sama lain yang pada akhirnya bisa dikatakan sebagai tulisan utuh. Bisa itu karena terbiasa, perkataan ini sering terungkap dari para motivator di depan publik bahwa menulis itu bisa dipelajari asal mau saja dan tidak menyerah sampai tulisan terbit. Sepanjang kita berani memulai, dan menulis Insya Allah hambatan dan tantangan yang ada di depan mata akan terjawab.
Dalam dunia literasi menulis, peran pengarang harus banyak latihan dan belajar mengamati setiap peristiwa atau kasus. Mulailah, pelan-pelan tulisanmu berangsur dengan baik, perbanyak membaca dan mengamati supaya bisa mengungkapkan isi kepala dengan baik. Jika sudah mahir, tentunya menulis itu bukanlah hal yang paling sulit, tapi sangat menyenangkan, jangan banyak protes tanpa belajar, ingat pengalaman lebih berharga dari sekedar teori, kebanyakan teori tindakannya kurang mencerminkan solusi atas permasalahan yang terjadi.
Setiap ada problem, kita fokus pada solusi bukan pada masalah, semakin sering memikirkan solusi tentunya akan semakin luas jalan keluar yang akan ditemukan dalam menemukan jawaban dari pertanyaan persoalan. Seperti sekarang, sering mengalami hambatan pada topik khusus dan tesis, tentu tidak terfokus pada masalahnya, namun konsentrasi bagaimana mencari solusi untuk menjawab masalah tersebut dengan cara menemui dosen pembimbing, bertanya kepada rekan satu almamater apa yang harus dilakukan manakala tugas belum selesai, Insya Allah menemukan titik terang atas hambatan yang dihadapi baik mengenai topik khusus maupun tesis.
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya karena memang harus ada yang dikorbankan untuk mencapai titik tertentu agar bisa memberikan penyegaran bagi diri sendiri. Tujuan akhir adalah bagaimana kehadiran kita bisa memberikan pencerahan kepada publik khususnya diri sendiri. Percayalah bahwa setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan, apapun yang dialami hari ini akan menjadi pelajaran dan pengalaman berharga untuk mengarang lebih baik yang ditandai dengan hasil artikel saat dibaca orang lain dan publik secara luas. Meski tidak gampang, ternyata metode begini bisa menjadi bahan pelajaran dan latihan agar mengarang jadi gampang dari awal sampai akhir.
Fokus saja pada tema yang ingin diangkat, pelan-pelan dapat melacak dimana saja kekurangannya untuk segera dievaluasi dan perbaiki.
Menulis tentang pengalaman sendiri jauh lebih mudah dibandingkan menulis cerita orang lain karena referensinya diri sendiri, hanya perlu tambahan informasi dan data sebagai penguat dan penunjang artikel tersebut. Setelah diedit harus baca berulang-ulang supaya tulisannya makin baik, tentunya akan ada kosa kata yang perlu diperbaiki, kalimat, paragraf, alinea maupun halaman. Paling mendasar mengenai kosa kata dan kalimat yang digunakan apakah sudah sesuai kaidah kepenulisan atau belum.
Tak hanya itu, bahasa pun harus tertata rapi, awalnya kita menggunakan bahasa daerah lantaran kebiasaan sehari-hari, namun diperbaiki satu persatu karena hasil karangan akan dipublikasikan mengikuti format yang ditentukan oleh penerbit, media atau wadah lain yang dianggap memenuhi unsur-unsur jurnalistik. Awal-awal menulis tentunya menggunakan bahasa daerah supaya lebih mudah, pelan-pelan kita perbaiki melalui kegiatan editing secara berulang-ulang. Hasil editing pun nanti di share ke media sosial, grup whatAps, twitter dan sejenisnya. Ketika tulisan itu dibagikan, posisikan anda sebagai pembaca meski itu tulisanmu sendiri. Pada tahap ini, kamu akan menemukan kualitas tulisanmu sendiri, baik, buruk, hancur, memalukan, membanggakan apakah ada salah penempatan kata dan kalimat.
Jangan takut tidak dibaca apalagi malu, silahkan dicoba berulang-ulang untuk melacak kekurangan dari sebuah tulisan. Selama kegiatan itu berlangsung tentunya kamu akan menemukan banyak temuan kosa kata, kalimat dan paragraph yang dianggap kurang. Disinilah waktunya mengoreksi dan mengevaluasi agar tulisan tersebut semakin baik. Kegiatan ini sangat sering dipraktekkan untuk menguji tulisan sendiri, biarkan waktu terbuang begitu banyak, namun tulisan semakin baik dan berkualitas. Jika seorang penulis sudah mampu melalui tahap ini, yakin dan percaya tulisan yang dihasilkan berkualitas karena sudah masuk tahap uji, tinggal bagaimana mencerahkan pembaca dengan menempatkan kalimat yang mengikat para pembaca dan publik, sesuai kreasi dari seorang penulis.
Mengapa menulis itu sulit karena kamu jarang melakukannya. Sedangkan mengapa berbicara itu mudah karena kamu sering mempraktekkannya. Begitu pula menulis, semakin sering dipraktekkan, akan semakin mudah bagi penulis mengungkapkan isi pikiran dalam bentuk tulisan yang menarik dan berkualitas. Saya pun masih belajar dari nol lagi lantaran sudah lama tidak menulis. Jatuh cinta dengan menulis membuat kita tak ada beban baik tulisan tidak terbit maupun ditolak.
Bersyukur dan terus memperbaiki hasil karangan itu akan lebih baik daripada kita menyesali tulisan yang ditolak tersebut. Yakin dan percaya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan, itu janji Allah. Tetap istiqomah dalam kegiatan menulis lambat laun akan semakin membaik. Semua ini melalui proses belajar yang tak kenal kata berhenti, bila letih istirahat, jika lapar makan, kalau berhenti berarti menyerah.
Sebagai pengarang terus berinovasi dalam membuat sebuah tulisan supaya mengundang daya tarik pembaca, publik yang terdampak setidaknya ikut tercerahkan. Meskipun diterjang persoalan perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses informasi melalui media sosial, hendpone dan sejenisnya. Giat menulis jangan pernah ditinggalkan karena inilah senjata utama yang harus diperjuangkan agar kelak menjadi “penolong” manakala kita kalah strategi, minimal mampu mengaktualisasikan diri dan mampu berkompetisi.
Meski teknologi terus berkembang, tapi jiwa menulis tidak boleh padam, semangati, motivasi dan tumbuhkan semangat agar menemukan alasan tetap menulis. Mengapa saya menulis, selalu tanamkan dalam diri sendiri agar tidak kendor dan setiap hari selalu melahirkan tulisan yang berasal dari pengalaman diri sendiri. Kalau sudah bagus dan baik, segera publikasi dengan harapan dapat memberikan pencerahan dan solusi untuk menjawab persoalan publik. Semakin besar masalahnya, maka perbesar pula solusinya supaya kita tidak terjebak dengan masalah diri kita sendiri, Semangat.
oleh: Muhammad Tamimi (Penulis Aktif)


















